KOMPAS: Minggu, 25 April 2010 | 03:58 WIB
Benteng Ungaran merupakan ironi. Kondisi bangunan yang pernah menentukan nasib Pulau Jawa pada abad ke-19 itu kini rusak parah. Revitalisasi bangunan di jalan utama Semarang-Solo, Jawa Tengah, itu pun tak jelas nasibnya karena terganjal masalah status kepemilikan.
Seorang lelaki tua berkali-kali mengayunkan pedang ke semak belukar di dalam Benteng Ungaran yang persis berada di depan Kantor Bupati Semarang, Rabu (21/4). Mbah Ratno veteran berusia 71 tahun itu.
Ia mengenakan celana panjang digulung sebatas mata kaki dipadu baju berkerah. Rambut putihnya bersembunyi di balik topi hijau lusuh dengan ”wing” penerjun dijahit kasar di bagian muka topi. Napasnya sedikit tersengal seusai membabat semak. Ia lantas menyandarkan pedang panjang ke tembok, dekat garu dan sabit panjang.
Pandangan matanya mengarah ke berbagai penjuru. Melihat semak yang membuat benteng itu tampak laiknya hutan. Secara kasatmata bangunan seluas 1.870 meter persegi itu rusak parah. Tembok retak dengan kayu lapuk akibat terpapar matahari dan hujan. Di dalam benteng terdapat bekas rumah tahanan, perkantoran, penjara, dan gudang.
”Biar benteng ini saya urus. Selama ini enggak kopen (dirawat),” tutur Suratno, pensiunan TNI Angkatan Darat tahun 1980 berpangkat kopral satu itu.
Semasa aktif di AD, Mbah Ratno bertempur menumpas pemberontakan Daud Beureuh di Aceh tahun 1961 dan operasi Trikora, pembebasan Irian Barat tahun 1962. ”Belum ada film Rambo. Kami sudah jadi Rambo. Membawa senapan mesin, Bren SMR yang pelurunya renteng, bisa dililitkan ke badan. Senjata itu buatan Cekoslowakia,” kenangnya sambil tertawa.
Sejak Desember 2008, hampir tiap hari ia berjalan kaki 400 meter dari rumahnya menuju Benteng Ungaran. Tempat ia ”bertempur” melawan semak di tembok benteng.
”Buat saya, semua sukarela. Seperti dahulu jadi tentara ditanya komandan, apa sanggup bekerja tanpa bayaran? Apa sanggup makan nasi nuk (nasi bungkus)? Saya jawab sanggup. Apalagi ini,” tuturnya.
Bagi kakek sembilan cucu ini, Benteng Ungaran sangat bernilai. Di lokasi ini, Pangeran Diponegoro pernah transit saat hendak diasingkan ke Makassar pasca-perang Jawa (1825-1830). ”Jawa Tengah itu Kodam Diponegoro. Masa tega saya membiarkan punden pahlawan yang namanya digunakan Kodam ini telantar,” tutur Mbah Ratno.
Merujuk angka romawi di benteng itu, benteng diperkirakan dibangun tahun 1786. Namun, menurut Ketua Harian Lembaga Pelestarian Cagar Budaya Nasional ”Ratu Shima” Sutikno, benteng itu dibangun tak lama setelah Geger Pacinan 1743. Konon, di benteng ini Paku Buwono II bertemu Gubernur Jenderal VOC Van Imhoff. Lalu, semasa perang Belanda- Inggris tahun 1811, benteng itu menjadi pertahanan terakhir Belanda di Pulau Jawa. Mayor William Thorn, perwira Inggris dalam memoarnya The Conquest of Java tahun 1815 mencatat, di Benteng Ungaran pimpinan pasukan Belanda Jenderal Janssens bertahan sebelum pasukannya desersi sehingga ia terpaksa lari ke Salatiga. Di Benteng Ungaran pula kesepakatan damai, sekaligus penyerahan Jawa kepada Inggris, berlangsung.
Mbah Ratno mengaku tak paham benar sejarah benteng itu. Namun, baginya, benteng itu tak boleh sekadar menjadi ajang rebutan. Apalagi, bila pihak yang mengklaim sama sekali tak tergerak merawatnya.
Selama puluhan tahun benteng ini dimanfaatkan sebagai asrama keluarga anggota Polri. Baru tahun 2006, Pemkab Semarang berencana merevitalisasi bangunan itu agar dijadikan museum untuk pariwisata.
Karena itu, 16 keluarga penghuni benteng itu diminta pindah dengan kompensasi masing- masing Rp 20 juta. Pertengahan tahun 2007, benteng itu kosong. Tahun 2008 APBD Kabupaten Semarang menyediakan Rp 1,53 miliar untuk revitalisasi tahap pertama. Namun, dana itu batal terserap karena muncul klaim kepemilikan dari Polres Semarang. Kepala Polres Semarang saat itu Ajun Komisaris Besar Abdul Hafidh Yuhas menyiratkan benteng baru dilepas jika kepolisian dibuatkan asrama.
Anggota staf Sekretariat Daerah Kabupaten Semarang, Marcel Van Rodriques, menjelaskan, diperoleh informasi dari Badan Pertanahan Nasional, bangunan itu milik Polri. Ini sama dengan penjelasan Kapolres Semarang Ajun Komisaris Edi Swasono.
Bagi Sutikno, siapa pun pemiliknya, segeralah direvitalisasi daripada hancur. Pusat Data Arsitektur pun mencatat hanya tinggal 177 benteng di Indonesia, padahal dari catatan sejarah ada 303 benteng di Sumatera dan 159 di Jawa. (Antony Lee)
Sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/25/03583792/rambo.tua.di.benteng.ungaran
